Ada satu kalimat dari O'Sensei (founder/pendiri dari AIKIDO) yang sering membuat praktisi baru AIKIDO bingung.
"Dalam pertarungan nyata, atemi itu 70 persen, teknik 30 persen."
Kedengarannya kontradiktif untuk seni bela diri yang dikenal sebagai Art of Peace. Tapi pemahaman O'Sensei tentang atemi ternyata jauh berbeda dari yang dibayangkan kebanyakan orang.
Morihiro Saito Sensei, yang tinggal langsung bersama O'Sensei selama lebih dari dua puluh tahun di Iwama, bahkan mencatat versi lain dari perkataan gurunya sendiri:
"Atemi menyumbang 99 persen dari AIKIDO."
Angka ini tercatat di buku Traditional AIKIDO Volume 5, halaman 38, karya Saito Sensei sendiri.
Secara harfiah, atemi (当て身 atau 当身) berarti "yang mengenai tubuh". Dua kanji penyusunnya:
当 (ateru) — mengenai, menyentuh, mencocokkan
身 (mi) — tubuh
Tapi definisi harfiah ini tidak cukup menjelaskan mengapa O'Sensei menganggapnya begitu penting.
Bagi O'Sensei dan Saito Sensei, atemi bukan sekadar pukulan untuk melukai. Atemi adalah alat untuk membuka jalan menuju teknik berikutnya.
Pertanyaan yang wajar muncul: kalau atemi sepenting itu, kenapa dalam latihan sehari hari orang jarang melihat pukulan sungguhan dalam AIKIDO?
Jawabannya ada di cara AIKIDO memaknai atemi. Pukulan biasa punya satu tujuan: melukai atau melumpuhkan lewat dampak langsung.
Atemi di AIKIDO punya tujuan berbeda. Menciptakan reaksi. Membuat lawan secara refleks bereaksi terhadap ancaman di depan, sehingga perhatian dan keseimbangannya terganggu sepersekian detik. Sepersekian detik itulah yang dipakai untuk masuk ke teknik.
Saito Sensei menjelaskan konsep ini lewat teknik munetsuki kotegaeshi. Keseimbangan lawan bukan diambil dari gerakan tangan atau lengan atas nage (pihak yang melakukan teknik).
Melainkan dari pergerakan dan penurunan pinggul.
Tangan yang memegang pergelangan lawan hanyalah titik sambung. Yang benar benar mematahkan keseimbangan adalah gerakan dari pusat tubuh (hara).
Ini prinsip inti Iwama style yang diwariskan langsung dari pengalaman Saito Sensei berlatih bersama O'Sensei selama dua dekade lebih.
Di sinilah letak perbedaan mendasar atemi di AIKIDO dengan pukulan pada bela diri lain.
Pukulan biasa bertujuan melukai atau melumpuhkan lawan. Sumber tenaganya dari otot lengan dan bahu, menyasar titik sakit tunggal, dan berfungsi sebagai serangan akhir dalam sebuah pertarungan.
Atemi di AIKIDO punya tujuan yang berbeda, yaitu menciptakan reaksi dan mengacaukan fokus lawan. Sumber tenaganya berasal dari pergerakan pinggul dan seluruh tubuh, menyasar struktur keseimbangan lawan secara keseluruhan, bukan cuma satu titik sakit. Fungsinya pun bukan sebagai serangan akhir, melainkan pembuka jalan menuju teknik berikutnya.
Hitohiro Saito, putra Morihiro Saito Sensei dan penerus dojo Iwama, menjelaskan konsep ini lebih jauh lewat teknik irimi nage.
Genggaman di pergelangan tangan dan kerah lawan menciptakan dua tarikan berlawanan arah secara bersamaan. Efeknya disebut kuzushi, keseimbangan lawan hancur, tubuhnya seperti melayang, kondisi ini disebut ukimi.
Begitu tubuh lawan melayang seperti itu, melempar jadi jauh lebih mudah, tanpa perlu tenaga besar dari pihak yang melakukan teknik.
Dari sisi biomekanik, atemi di Iwama style sangat berbeda dari pukulan konvensional.
Pukulan biasa mengandalkan kekuatan otot lengan dan bahu, bergerak lurus ke satu target dengan tujuan menimbulkan dampak maksimal di satu titik.
Atemi di Iwama style justru mengandalkan pergerakan pinggul dan seluruh tubuh sebagai satu kesatuan. Tujuannya bukan menimbulkan rasa sakit di satu titik, melainkan mengacaukan struktur keseimbangan lawan secara keseluruhan.
Inilah sebabnya, tinggi atau rendahnya kekuatan fisik seseorang tidak selalu menentukan efektivitas atemi. Yang menentukan adalah presisi, timing, dan pemahaman terhadap struktur tubuh lawan.
Dari sisi filosofi, O'Sensei tidak pernah mengajarkan atemi sebagai alat untuk menyakiti demi kepuasan pribadi.
Buku Budo Renshu, salah satu dari dua buku yang ditulis langsung oleh O'Sensei, memuat banyak foto yang jelas menunjukkan penggunaan atemi dalam teknik teknik AIKIDO.
Ini membuktikan atemi bukan tambahan yang dilupakan seiring waktu. Atemi adalah bagian yang memang sengaja diajarkan sejak awal, meski sering luput diperhatikan dalam latihan modern yang lebih menonjolkan lemparan dan kuncian.
Atemi dalam AIKIDO bukan soal siapa yang bisa memukul paling keras.
Atemi adalah soal siapa yang paling paham kapan, di mana, dan dengan tujuan apa sebuah gerakan dilepaskan.
Bukan untuk menghancurkan. Tapi untuk membuka jalan menuju keseimbangan yang hilang dari lawan, dan dari situ, menuju teknik penyelesaian yang tidak harus berakhir dengan kekerasan berlebihan.
Inilah salah satu alasan mengapa Iwama Aikido Busenkai Surabaya tetap setia pada ajaran yang bersumber langsung dari O'Sensei, Morihiro Saito Sensei, dan Hitohiro Saito Sensei, tanpa mencampurnya dengan interpretasi dari aliran lain.
Kalau kalian tertarik mencoba beladiri AIKIDO Surabaya Barat langsung, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.