Di antara semua yang dipelajari dalam beladiri AIKIDO, rileks justru sering jadi hal paling sulit dikuasai, lebih sulit dari teknik banting atau kuncian sekalipun. Ini kedengarannya aneh, karena secara naluri, orang mengasosiasikan kekuatan dengan otot yang tegang dan badan yang siap menyerang.
Padahal di Dojo Antares, salah satu tempat latihan beladiri AIKIDO Surabaya Barat, hal pertama yang justru ditekankan ke pemula adalah kebalikannya: belajar melepaskan ketegangan yang tidak perlu, bukan menambahnya.
Kesalahpahaman paling umum soal rileks dalam beladiri adalah menyamakannya dengan pasrah atau tidak berdaya. Padahal keduanya sangat berbeda. Tubuh yang tegang justru cenderung lebih lambat membaca gerakan lawan, napasnya tertahan, dan responsnya jadi kaku. Sebaliknya, tubuh yang rileks tapi tetap siap justru lebih peka membaca arah dan momentum serangan, sehingga bisa merespons lebih cepat dan lebih tepat.
Prinsip ini bukan sekadar teori latihan, tapi berakar dari ajaran langsung pendiri AIKIDO sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan Aikido Journal, Hitohiro Saito Sensei, penerus garis Iwama, menceritakan ajaran yang diturunkan langsung dari O'Sensei Morihei Ueshiba kepada murid-muridnya bahwa AIKIDO dimulai dengan melepaskan seluruh ketegangan tubuh terlebih dahulu. Rileks di sini bukan berarti lemas tanpa tenaga, justru sebaliknya, seluruh energi tetap dikeluarkan penuh, hanya saja tanpa ketegangan yang menghambat.
O'Sensei juga sering menjelaskan prinsip ini lewat perumpamaan air. Dalam bukunya, The Art of Peace, ia menggambarkan bagaimana seharusnya seorang praktisi bereaksi terhadap serangan, dengan menjadi cair dan mengalir sepenuhnya, karena air pada dasarnya tidak pernah benar-benar menabrak apapun. Air menyerap serangan apapun tanpa perlawanan langsung yang keras. Perumpamaan ini menjadi salah satu penjelasan paling terkenal soal kenapa ketegangan berlebihan justru melemahkan, bukan menguatkan.
Morihiro Saito, murid yang mendampingi O'Sensei langsung selama lebih dari dua dekade di Iwama, juga menekankan konsep serupa lewat istilah awase, yang secara sederhana berarti menyelaraskan diri dengan gerakan pasangan latihan. Dalam sebuah wawancara dengan Aikido Journal tahun 1987, Morihiro Saito menjelaskan bahwa prinsip awase ini berlaku sama, baik dalam latihan tangan kosong maupun latihan senjata seperti ken dan jo. Semuanya dimulai dari kemampuan menyelaraskan diri, bukan melawan secara kaku.
Bagi siapa saja yang tertarik belajar beladiri AIKIDO di Surabaya Barat, prinsip rileks yang aktif ini adalah salah satu hal pertama yang akan dipelajari, bukan di akhir, tapi sejak sesi latihan pertama. Di Dojo Antares, pemula tidak dituntut untuk langsung kuat atau kaku dalam bergerak, justru sebaliknya, fokus awal selalu pada napas, postur, dan kemampuan melepaskan ketegangan yang tidak perlu.
Filosofi ini juga yang membedakan AIKIDO dari kebanyakan bela diri lain: kekuatan sejati bukan soal seberapa keras kamu bisa menegangkan otot, tapi seberapa baik kamu bisa tetap tenang dan responsif di bawah tekanan.
Prinsip rileks yang aktif ini paling mudah dipahami lewat pengalaman langsung, bukan cuma teori. Kalau kalian tertarik mencoba beladiri AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.