Kita hidup di dunia yang hampir selalu meminta kita untuk menjadi lebih baik dari orang lain.
Nilai ujian harus lebih tinggi. Karier harus lebih cepat. Penghasilan harus lebih besar. Jumlah followers harus bertambah. Prestasi harus terlihat. Bahkan dalam kehidupan sehari hari, media sosial membuat kita terus menerus melihat pencapaian orang lain.
Tanpa disadari, hidup dapat berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.
Tetapi di tengah budaya seperti ini, AIKIDO menawarkan sebuah pertanyaan yang sangat berbeda.
Bagaimana jika tujuan latihan bukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk mengalahkan dorongan dalam diri kita sendiri untuk selalu bersaing?
Pertanyaan tersebut memiliki hubungan yang sangat kuat dengan filosofi O'Sensei tentang AIKIDO dan apa yang disebutnya sebagai seni perdamaian.
Kompetisi sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk.
Kompetisi dapat memberikan motivasi, membuat seseorang berusaha lebih keras, dan membantu kita mengukur perkembangan diri. Masalah muncul ketika kompetisi tidak lagi menjadi sesuatu yang dilakukan sesekali, tetapi berubah menjadi cara utama kita menilai harga diri.
Kita mulai berpikir bahwa kalau orang lain berhasil, berarti kita tertinggal.
Kalau teman mendapatkan pekerjaan lebih baik, kita merasa gagal.
Kalau orang lain memiliki pencapaian lebih tinggi, kita merasa harus mengejarnya.
Kalau hasil kita tidak sempurna, kita merasa tidak cukup baik.
Inilah yang sering disebut sebagai comparison culture, budaya perbandingan yang membuat seseorang terus menerus mengukur dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.
Masalahnya, perbandingan tersebut sering tidak adil. Kita membandingkan kehidupan kita yang lengkap, termasuk kegagalan dan keraguan di dalamnya, dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain yang mereka tampilkan.
Pada akhirnya, kita bukan lagi bertanya, "Apakah saya berkembang?"
Kita bertanya, "Apakah saya lebih baik daripada dia?"
Menariknya, gagasan ini telah dibicarakan O'Sensei jauh sebelum istilah seperti comparison culture dan burnout menjadi bagian dari percakapan modern.
Dalam The Art of Peace, yang diterjemahkan oleh John Stevens, O'Sensei mengatakan:
"Jalan seorang pejuang telah disalahpahami. Jalan itu bukan sarana untuk membunuh dan menghancurkan orang lain. Mereka yang berusaha bersaing dan mengungguli satu sama lain melakukan kesalahan yang besar. Menghancurkan, melukai, atau memusnahkan adalah hal terburuk yang dapat dilakukan manusia."
Pernyataan ini cukup radikal jika ditempatkan dalam konteks seni bela diri.
Seorang praktisi AIKIDO justru diajak mempertanyakan kebutuhan untuk menjadi lebih kuat daripada orang lain.
O'Sensei juga mengatakan:
"Begitu Anda mulai memikirkan mana yang 'baik' dan 'buruk' dari sesama Anda, Anda membuka celah dalam hati bagi niat buruk untuk masuk. Menguji, bersaing dengan, dan mengkritik orang lain melemahkan dan mengalahkan diri Anda sendiri."
Di sini terdapat sebuah gagasan yang sangat relevan dengan kehidupan modern.
Ketika seluruh perhatian kita diarahkan kepada orang lain, kita kehilangan perhatian terhadap perkembangan diri sendiri.
Bayangkan seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai 85.
Secara objektif, nilai tersebut bisa saja merupakan hasil kerja keras dan perkembangan yang baik. Tetapi kemudian ia melihat temannya mendapatkan nilai 95.
Tiba tiba 85 terasa seperti kegagalan.
Hal yang sama dapat terjadi di dunia kerja, bisnis, olahraga, bahkan media sosial.
Seseorang dapat memiliki kehidupan yang sebenarnya baik, tetapi tetap merasa tertinggal karena selalu melihat orang yang dianggap lebih sukses.
Tekanan seperti ini dapat berkembang menjadi perfeksionisme dan kecemasan terhadap kegagalan. Pada lingkungan pendidikan yang sangat kompetitif, penelitian juga menemukan hubungan antara tekanan akademik dan berbagai masalah psikologis, termasuk burnout, kecemasan, serta gejala depresi.
Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang akhirnya takut memulai sesuatu karena merasa harus langsung sempurna.
Padahal perkembangan manusia tidak bekerja seperti itu.
Kita belajar karena kita belum sempurna.
Kita berlatih karena kita belum menguasai sesuatu.
Dan kita jatuh agar memiliki kesempatan untuk belajar berdiri kembali.
Budaya kompetisi yang berlangsung terus menerus juga dapat berkontribusi terhadap burnout.
Burnout umumnya dibicarakan melalui tiga dimensi, yaitu kelelahan emosional, sikap menjauh atau sinis terhadap aktivitas yang dijalani, dan menurunnya rasa pencapaian pribadi. Dalam lingkungan pendidikan, tekanan akademik kronis dan persaingan dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Masalahnya bukan sekadar bekerja keras.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya ingin berkembang."
dan
"Saya harus lebih baik daripada orang lain."
Kalimat pertama berorientasi pada pertumbuhan.
Kalimat kedua berorientasi pada perbandingan.
Ketika identitas kita mulai bergantung pada posisi kita dibandingkan orang lain, keberhasilan orang lain dapat terasa seperti ancaman terhadap diri sendiri.
Di sinilah filosofi AIKIDO menjadi menarik.
Stres adalah bagian normal dari kehidupan. Dalam kadar tertentu, stres bahkan dapat membantu kita menghadapi tantangan.
Namun stres yang berlangsung terus menerus dapat memberikan beban berbeda pada sistem tubuh dan otak.
Salah satu sistem penting yang terlibat adalah HPA axis, yaitu sistem biologis yang mengatur respons tubuh terhadap stres dan berkaitan dengan pelepasan hormon seperti kortisol. Jaringan yang melibatkan amigdala, hipokampus, dan korteks prefrontal ikut berperan dalam mengatur respons tersebut.
Amigdala berperan penting dalam mendeteksi ancaman dan memproses respons emosional. Hipokampus memiliki peran penting dalam memori dan pembelajaran. Sementara itu, korteks prefrontal berperan dalam fungsi seperti pengambilan keputusan dan pengendalian respons.
Ketika stres menjadi kronis, penelitian menunjukkan bahwa sistem ini dapat mengalami perubahan fungsi dan struktur. Stres berkepanjangan berkaitan dengan perubahan pada plastisitas dan fungsi hipokampus, termasuk gangguan pada beberapa bentuk pembelajaran dan memori. Sejumlah penelitian juga menemukan perubahan pada struktur serta fungsi jaringan yang melibatkan amigdala dan korteks prefrontal.
Artinya, ketika seseorang terus menerus merasa harus menang, mengejar, membuktikan diri, atau takut tertinggal, tubuh dan otak tidak selalu menganggapnya sekadar permainan sosial.
Jika tekanan tersebut berlangsung terlalu lama, sistem stres dapat terus aktif.
Kita akhirnya belajar untuk selalu waspada.
Orang lain bukan lagi sekadar teman atau rekan.
Mereka dapat terasa seperti pesaing.
Dan dunia yang sebenarnya netral mulai terasa seperti arena yang penuh ancaman.
Di sinilah latihan AIKIDO menawarkan perspektif yang sangat berbeda.
Iwama AIKIDO tidak dibangun sebagai kompetisi antarpraktisi. Tidak ada podium yang harus diperebutkan. Tidak ada ranking yang menentukan siapa yang lebih unggul dari orang lain.
Dalam latihan, kita bekerja bersama.
Satu orang menyerang, satu orang menerima dan merespons. Keduanya belajar dari proses tersebut.
Konsep seperti blending, atau menyatu dengan arah dan energi yang datang, memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar teknik.
Ketika sesuatu datang kepada kita, respons pertama tidak harus selalu berupa benturan.
Kita dapat menerima.
Kita dapat menyesuaikan diri.
Kita dapat mengubah arah.
Dan kita dapat tetap menjaga keseimbangan.
Ini bukan berarti menjadi lemah atau selalu mengalah. Justru dibutuhkan kesadaran dan kontrol diri untuk tidak bereaksi secara impulsif.
Salah satu kutipan O'Sensei yang paling kuat berbunyi:
"Dalam Seni Perdamaian tidak ada pertandingan. Seorang pejuang sejati tidak terkalahkan karena ia tidak bertanding melawan apa pun. Kekalahan berarti mengalahkan pikiran yang suka bertikai yang kita simpan di dalam diri."
Kalimat ini mengubah definisi kemenangan.
Kalau tidak ada pertandingan, lalu apa yang sebenarnya kita latih?
Diri kita sendiri.
Kita belajar menjadi lebih tenang daripada kemarin.
Lebih sabar daripada kemarin.
Lebih mampu mengendalikan ego daripada kemarin.
Lebih mampu menerima kesalahan.
Lebih mampu menghargai perkembangan orang lain tanpa merasa terancam olehnya.
Dengan perspektif ini, orang yang berlatih bersama kita bukanlah seseorang yang harus dikalahkan.
Ia justru menjadi bagian dari perjalanan kita.
Mungkin tantangan terbesar manusia modern bukan kurangnya kesempatan untuk berkembang, tetapi terlalu banyak alasan untuk terus membandingkan diri.
Setiap hari kita melihat siapa yang lebih sukses, lebih kaya, lebih populer, lebih cantik, lebih kuat, lebih cepat, atau lebih jauh.
AIKIDO menawarkan sebuah jeda dari semua itu.
Bukan dengan mengatakan bahwa kita tidak boleh memiliki ambisi.
Bukan dengan mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi lebih baik.
Tetapi dengan mengubah pertanyaan.
Bukan lagi, "Bagaimana saya bisa mengalahkan mereka?"
Melainkan,
"Bagaimana saya bisa menjadi versi diri saya yang lebih baik?"
Mungkin itulah makna harmoni yang sebenarnya.
Bukan dunia tanpa konflik, tetapi kemampuan untuk tidak membiarkan konflik menguasai pikiran kita.
Bukan kehidupan tanpa kompetisi, tetapi kemampuan untuk tidak menjadikan perbandingan sebagai ukuran harga diri.
Dan bukan kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan atas dorongan dalam diri yang selalu ingin membuktikan bahwa kita lebih unggul.
Nilai non kompetitif seperti inilah yang terus dijaga dalam latihan Iwama AIKIDO Busenkai Surabaya. Pada akhirnya, mungkin latihan yang paling penting bukanlah bagaimana kita berdiri di atas orang lain, tetapi bagaimana kita belajar berdiri dengan lebih tenang di dalam diri kita sendiri. So...kalau kalian tertarik belajar filosofi non resistance dan harmoni melalui beladiri AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.