Salah satu hal tersulit dilakukan di dunia adalah perubahan karakter. Iya kan? Kalo pepatah Jawa bilang "Watuk iso diobati, nanging watak digawa tekane pati". Artinya, batuk bisa disembuhkan dengan obat, tetapi sifat atau karakter dasar seseorang sangat sulit diubah dan terbawa sampai mati. Jadi gini....
Di balik latihan AIKIDO yang diwariskan di Dojo Iwama, terdapat kisah tentang pencarian makna, disiplin, dan perubahan karakter. Salah satu perjalanan yang paling menarik adalah pengalaman spiritual Hitohira Saito Sensei ketika menjalani misogi selama lebih dari satu tahun hingga akhirnya dipertemukan dengan seorang pria tua bernama Sasame. Pertemuan tersebut bukan hanya memperluas pemahamannya tentang warisan O'Sensei, tetapi juga mengubah cara beliau memandang diri sendiri dan orang lain.
Bagi banyak praktisi AIKIDO, kisah ini menjadi pengingat bahwa latihan bukan hanya tentang menyempurnakan teknik, tetapi juga tentang menyempurnakan karakter.
Banyak orang mengenal AIKIDO sebagai seni bela diri Jepang yang tidak mengutamakan kemenangan ataupun kompetisi. Namun bagi O'Sensei, AIKIDO merupakan jalan untuk menyelaraskan tubuh, pikiran, dan hati.
Warisan tersebut kemudian diteruskan oleh Morihiro Saito Sensei di Iwama melalui latihan yang menekankan dasar dasar AIKIDO secara konsisten. Di lingkungan Iwama, teknik tidak pernah dipisahkan dari pembentukan karakter. Seorang praktisi diharapkan berkembang bukan hanya menjadi lebih terampil, tetapi juga menjadi manusia yang lebih rendah hati dan bertanggung jawab.
Semangat inilah yang juga tercermin dalam perjalanan pribadi Hitohira Saito Sensei.
Dalam wawancara bersama Aikido Journal pada tahun 1998, Hitohira Saito Sensei menceritakan bahwa sekitar tahun 1991 beliau menjalani misogi, yaitu ritual penyucian diri di bawah air terjun.
Yang membuat pengalaman ini begitu luar biasa adalah konsistensinya.
Selama lebih dari satu tahun penuh, beliau melakukan misogi setiap hari tanpa pernah absen, baik saat hujan maupun ketika salju turun.
Dalam tradisi Jepang, misogi dipandang sebagai latihan untuk membersihkan batin sekaligus melatih disiplin. Air terjun yang dingin menjadi simbol menghadapi ketidaknyamanan dengan kesadaran penuh, bukan dengan perlawanan.
Latihan semacam ini tentu bukan sekadar ujian fisik. Dibutuhkan kemauan yang kuat untuk tetap hadir setiap hari, bahkan ketika tubuh atau cuaca tidak mendukung.
Suatu hari, setelah menjalani misogi selama lebih dari satu tahun, Hitohira Saito Sensei membaca sebuah artikel mengenai seorang pria tua bernama Sasame yang tinggal di Gunung Otake, Okutama, Tokyo.
Hal yang menarik perhatian beliau adalah fakta bahwa Sasame pernah bertemu dengan Onisaburo Deguchi, tokoh penting dalam sejarah Omoto yang memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan spiritual O'Sensei.
Rasa penasaran mendorong Hitohira Saito Sensei untuk mengunjungi Sasame secara langsung.
Keputusan sederhana untuk mengikuti rasa ingin tahu tersebut kemudian membuka babak baru dalam perjalanan hidupnya.
Kehidupan Sasame dipenuhi pengalaman yang luar biasa.
Semasa perang, beliau dipenjara di Siberia. Setelah dipulangkan ke Jepang pada tahun 1957, tahun yang sama dengan kelahiran Hitohira Saito Sensei, Sasame bertemu O'Sensei di Tokyo.
Saat itu O'Sensei menyarankan agar Sasame datang ke Iwama untuk berdoa di kuil sekaligus memulihkan kondisi fisik dan batinnya.
Namun Sasame memilih kembali ke Tokyo.
Menurut penuturannya sendiri, ia khawatir akan berselisih dengan O'Sensei karena merasa mereka berdua sama sama memiliki sifat keras kepala.
Walaupun bukan pengikut resmi Omoto, Sasame memiliki kedekatan dengan ajaran tersebut dan banyak berbagi pandangan filosofis kepada Hitohira Saito Sensei ketika mereka bertemu.
Pertemuan keduanya meninggalkan kesan yang mendalam.
Sasame berkata kepada Hitohira Saito Sensei,
"Ueshiba Sensei must have sent you to me."
Menariknya, Hitohira Saito Sensei mengaku memiliki perasaan yang sama.
Beliau kemudian belajar banyak hal filosofis dari Sasame, khususnya mengenai cara memandang kehidupan dan dunia spiritual yang selama ini juga menjadi bagian dari perjalanan O'Sensei.
Dalam wawancara tersebut, Hitohira Saito Sensei juga menyampaikan sebuah refleksi yang sangat pribadi.
"I have become somewhat more open to the invisible world as a result of such studies. I think my character has changed at least a little. I used to be pretty rough, but I have grown up to be able to lower my head to others."
Pengakuan ini menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tersebut tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi benar benar membawa perubahan dalam dirinya.
Apa yang dialami Hitohira Saito Sensei juga menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi modern.
Psikologi mengenal konsep self regulation, yaitu kemampuan seseorang untuk mengendalikan pikiran, emosi, dan perilakunya secara sadar. Kemampuan ini tidak muncul secara instan, tetapi dibangun melalui latihan yang dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang panjang.
Misogi yang dijalani setiap hari selama lebih dari satu tahun dapat dipahami sebagai latihan disiplin diri yang sangat intens. Terlepas dari makna spiritualnya dalam tradisi Jepang, kebiasaan untuk tetap menjalankan latihan setiap hari menunjukkan komitmen yang mampu memperkuat pengendalian diri, kesabaran, dan ketahanan mental.
Psikologi juga mengenal konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat terus berkembang melalui latihan, pengalaman, dan kemauan untuk belajar. Pernyataan Hitohira Saito Sensei mencerminkan pola pikir tersebut. Beliau tidak mengatakan telah mencapai kesempurnaan, melainkan menyadari bahwa proses belajar telah mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih rendah hati.
Kemampuan untuk "menundukkan kepala kepada orang lain" juga memiliki makna yang dalam. Dalam budaya Jepang, tindakan tersebut bukan sekadar etika, melainkan lambang penghormatan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus belajar. Dari sudut pandang psikologi, kualitas seperti ini merupakan ciri kematangan emosional, yaitu kemampuan untuk mengendalikan ego dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Dengan kata lain, latihan yang dilakukan secara terus menerus tidak hanya membentuk kemampuan fisik, tetapi juga membentuk cara seseorang berpikir, merasakan, dan memperlakukan sesamanya.
Kisah Hitohira Saito Sensei mengingatkan kita bahwa AIKIDO bukan sekadar mempelajari cara melakukan teknik dengan benar.
Latihan yang diulang setiap hari mengajarkan kesabaran.
Disiplin mengajarkan keteguhan.
Kerendahan hati membuka pintu untuk terus belajar.
Semakin lama seseorang berlatih, seharusnya semakin kecil keinginan untuk membuktikan diri kepada orang lain. Yang bertumbuh justru kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.
Barangkali inilah makna terdalam dari perjalanan seorang praktisi AIKIDO. Lawan terbesar bukanlah orang yang berdiri di depan kita, melainkan ego yang ada di dalam diri kita sendiri.
Perjalanan Hitohira Saito Sensei menunjukkan bahwa perubahan terbesar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kesungguhan, hari demi hari. Misogi, pertemuan dengan Sasame, dan refleksi terhadap ajaran O'Sensei bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang lebih baik.
Bagi siapa pun yang mempelajari AIKIDO, kisah ini mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa baik seseorang menguasai teknik, tetapi juga dari seberapa besar ia bertumbuh dalam kerendahan hati, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai nilai inilah yang terus dijaga dalam tradisi Iwama AIKIDO Busenkai Surabaya, sebagai bagian dari warisan AIKIDO yang tidak hanya membentuk kemampuan bela diri, tetapi juga membentuk karakter manusia. Kalau kalian tertarik mencoba merubah karakter melalui beladiri AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.