Ada fenomena menarik di dunia lari jarak jauh yang sering bikin orang bingung. Banyak pelari ultra marathon yang jarang sekali ke gym, hampir tidak pernah angkat beban, tapi tubuhnya tetap kuat menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer. Bagaimana bisa?
Jawabannya bukan soal bakat, tapi soal satu prinsip dasar dalam ilmu latihan fisik: tubuh tidak beradaptasi secara acak, tubuh beradaptasi secara spesifik terhadap apa yang benar-benar dituntut darinya secara konsisten dan berulang.
Prinsip ini dikenal dengan nama SAID, singkatan dari Specific Adaptation to Imposed Demands. Konsepnya pertama kali diperkenalkan oleh Franklin Henry, profesor pendidikan jasmani di Berkeley, pada tahun 1958, dan sampai sekarang masih jadi salah satu prinsip paling mendasar dalam ilmu latihan olahraga.
Intinya sederhana: tubuh akan berubah mengikuti persis jenis tuntutan yang diberikan padanya secara berulang. Pelari yang terus-menerus berlatih menempuh jarak jauh akan mengembangkan efisiensi jantung dan sistem energi yang spesifik untuk itu, bukan kekuatan otot untuk mengangkat beban berat. Sebaliknya, orang yang rutin latihan angkat beban akan mengembangkan kekuatan dan ukuran otot, tapi belum tentu ketahanan untuk lari jauh. Tubuh tidak pernah beradaptasi terhadap sesuatu yang dilakukan sesekali atau secara acak, ia hanya benar-benar berubah mengikuti pola yang konsisten diulang.
Prinsip yang sama persis berlaku dalam latihan AIKIDO, khususnya di aliran Iwama yang dikenal sangat menekankan kihon, atau teknik-teknik dasar. Gerakan seperti suburi (ayunan dasar bokken dan jo) atau kihon waza dilatih berulang-ulang, kadang terlihat monoton dari luar, tanpa variasi yang mencolok.
Tapi pengulangan ini bukan karena kurang kreatif atau kurang berkembang. Justru sebaliknya, karena tubuh hanya bisa benar-benar menguasai sesuatu lewat pengulangan yang konsisten. Sama seperti pelari ultra yang tidak butuh variasi latihan yang aneh-aneh untuk jadi kuat menempuh jarak jauh, praktisi AIKIDO tidak butuh terus-menerus berpindah teknik baru untuk benar-benar menguasai dasar. Yang dibutuhkan adalah pengulangan yang tepat dan konsisten dari gerakan yang sama.
Prinsip ini juga sejalan dengan keyakinan Morihiro Saito, murid yang mendampingi O'Sensei Morihei Ueshiba selama lebih dari dua dekade di Iwama. Dalam sebuah wawancara dengan Aikido Journal tahun 1987, Morihiro Saito menyampaikan keyakinannya bahwa teknik dasar tidak ada artinya kalau tidak distandardisasi.
Standardisasi ini penting justru karena alasan yang sama dengan prinsip SAID: kalau setiap latihan gerakannya berubah-ubah tanpa pola yang konsisten, tubuh tidak akan pernah benar-benar beradaptasi secara mendalam. Konsistensi dalam mengulang teknik dasar yang sama adalah yang memungkinkan tubuh benar-benar menyerap dan menguasainya.
Buat orang yang baru mulai belajar AIKIDO, latihan dasar yang diulang berkali-kali kadang terasa membosankan, apalagi dibanding teknik-teknik lanjutan yang terlihat lebih menarik. Tapi memahami prinsip SAID membantu melihatnya dari sudut pandang berbeda. Pengulangan itu bukan tanda latihan yang stagnan, justru itu jalan paling efektif menuju adaptasi yang nyata dan bertahan lama.
Sama seperti pelari ultra yang membangun ketahanannya lewat ribuan kilometer latihan yang konsisten, bukan lewat variasi yang berlebihan, praktisi AIKIDO membangun penguasaan sejatinya lewat kihon yang diulang, bukan lewat lompat dari satu teknik ke teknik lain tanpa fondasi yang kuat.
Memahami kenapa pengulangan itu penting secara teori itu satu hal, merasakan sendiri prosesnya di atas matras adalah hal lain. Penasaran gimana rasanya latihan dasar yang konsisten ini? Gini paling mudah dipahami lewat pengalaman langsung, bukan cuma teori. Kalau kalian tertarik mencoba beladiri AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO..