Ada satu elemen dalam AIKIDO yang sering disalahpahami sebagai formalitas belaka: kiai (気合). Sekilas terdengar cuma teriakan keras yang menyertai gerakan, padahal maknanya jauh lebih dalam dari itu.
Kiai adalah ekspresi energi dan niat yang menyatu lewat suara, lahir dari pusat tubuh dan napas, bukan sekadar suara keras yang dipaksakan dari tenggorokan. Seorang praktisi dengan kiai yang benar bisa membuat lawan ragu atau mundur bahkan sebelum sentuhan fisik terjadi, bukan karena volumenya, tapi karena kekuatan niat yang terpancar lewat suara itu.
Ada fakta menarik yang jarang dibahas soal kiai. Kata Kiai (気合) dan Aiki (合気) sebenarnya dibentuk dari dua huruf kanji yang persis sama, ki (energi atau napas) dan ai (harmoni atau penyatuan), hanya urutannya yang dibalik. Menurut analisis dari komunitas budo internasional seperti Aikido Italia Network, urutan ini bukan kebetulan, tapi menjelaskan cara kerja masing-masing konsep secara berbeda.
Dalam Kiai, Ki datang lebih dulu, energi yang diekspresikan lewat aksi yang tegas, semacam memotong momentum atau niat lawan. Dalam Aiki, Ai datang lebih dulu, harmoni yang mendahului energi, sehingga tindakan yang muncul lebih berupa penyelarasan dan pengalihan, bukan benturan langsung.
Keduanya digambarkan sebagai pasangan yang saling melengkapi, mirip konsep yin dan yang dalam filosofi Timur. Satu tidak benar-benar bisa berfungsi tanpa yang lain. Aiki tanpa Kiai cenderung terlalu lembek dan kehilangan ketegasan, sementara Kiai tanpa Aiki gampang berubah jadi kekerasan buta tanpa arah yang jelas.
Satu poin penting yang sering terlewat: kiai sebenarnya tidak selalu harus keluar sebagai teriakan keras, yang dalam istilah teknis disebut kakegoe. Kiai pada dasarnya adalah kesatuan niat antara tubuh, pikiran, dan napas, dan kesatuan ini bisa saja hadir secara diam, tanpa suara sama sekali. Yang tetap harus ada adalah hembusan napas yang tegas dan penuh kesadaran, bukan sekadar suara keras yang dipaksakan dari tenggorokan.
Ini juga menjelaskan kenapa sebagian latihan AIKIDO masa kini kehilangan esensi kiai yang sesungguhnya. Ketika fokus hanya pada suara keras tanpa memahami kesatuan niat di baliknya, kiai berubah jadi formalitas kosong, kebalikan dari apa yang ditekankan O'Sensei sejak awal, dan yang masih dijaga ketat dalam tradisi Iwama.
Betapa seriusnya soal kiai ini digambarkan lewat kenangan masa kecil Hitohiro Saito Sensei, penerus garis Iwama, yang tumbuh besar di lingkungan dojo bersama O'Sensei Morihei Ueshiba sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan Aikido Journal (artikel #113, 1998, oleh Sonoko Tanaka), Hitohiro Saito Sensei bercerita bahwa O'Sensei sangat ketat soal ini, bahkan kepada anak-anak yang berlatih di Iwama.
Suatu kali, saat mendengar kiai seorang murid yang terdengar lemah, O'Sensei langsung menegurnya di tempat, menyuruhnya keluar dan mencoba apakah kiai-nya cukup kuat untuk membuat seekor burung pipit terjatuh dari dahan. Bukan sindiran biasa, tapi cara O'Sensei menekankan bahwa kiai yang lemah dan asal-asalan sama sekali tidak ada gunanya dalam latihan.
Menariknya, kiai tidak diajarkan sembarangan atau dari awal. Menurut ajaran yang diturunkan Morihiro Saito Sensei dan diteruskan oleh Hitohiro Saito Sensei, semua teknik taijutsu, ken, maupun jo berakar dari hanmi, posisi dasar tubuh. Hanmi harus dikuasai lebih dulu, baru setelah itu seorang praktisi belajar melakukan kiai yang benar.
Urutan ini bukan kebetulan. Kiai yang benar hanya bisa lahir dari postur dan pusat tubuh yang sudah stabil. Tanpa fondasi hanmi yang kuat, kiai hanya akan jadi suara kosong tanpa energi yang menyertainya.
Hitohiro Saito Sensei sendiri pernah menyampaikan pandangannya soal ini secara langsung: berlatih tanpa kiai terasa hambar, dan O'Sensei sendiri dikenal memiliki kiai yang luar biasa. Ia bahkan menegaskan bahwa siapa saja yang sungguh-sungguh ingin belajar budo sejati tidak akan salah kalau berusaha meniru cara O'Sensei berlatih.
Prinsip kiai ini sebenarnya bukan cuma soal suara di dojo. Kiai adalah cerminan dari seberapa penuh niat seseorang saat melakukan sesuatu. Ada perbedaan besar antara mengerjakan sesuatu dengan setengah hati dan mengerjakannya dengan seluruh kesadaran dan energi, entah itu presentasi kerja, percakapan penting, atau keputusan sehari-hari. Kiai yang lemah di dojo biasanya juga mencerminkan niat yang setengah-setengah, dan itu terdengar, bahkan tanpa perlu ada yang menjelaskan.
Semua elemen ini, hanmi, kiai, dan niat penuh, pada akhirnya mengarah ke satu prinsip yang sama yang disampaikan Hitohiro Saito Sensei: fondasi latihan AIKIDO adalah proses menempa diri sendiri. Proses ini tidak bisa dilewati dengan langsung lompat ke teknik yang mengalir bebas (ki no nagare) sejak awal. Latihan dasar justru dimulai dari membiarkan diri benar-benar diuji, dipegang erat oleh partner latihan, sebelum akhirnya mulai mempraktikkan tekniknya.
Kiai yang benar tidak bisa dipahami hanya lewat membaca, harus dirasakan langsung lewat latihan. Kalau kalian tertarik mencoba beladiri AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.