Kalau kamu tumbuh dengan anime Jepang, kemungkinan besar pedang katana bukan sesuatu yang asing.
Dari Rurouni Kenshin, Demon Slayer, sampai berbagai anime bertema samurai, pedang sering digambarkan sebagai senjata yang menghasilkan gerakan luar biasa cepat, teknik spektakuler, dan kekuatan yang hampir melampaui kemampuan manusia.
Dalam Rurouni Kenshin, misalnya, Himura Kenshin menggunakan Hiten Mitsurugi Ryu, sebuah gaya pedang fiksi ciptaan Nobuhiro Watsuki. Salah satu teknik pamungkasnya, Amakakeru Ryu no Hirameki, digambarkan sebagai teknik dengan kecepatan luar biasa. Situs resmi anime bahkan menyebutnya sebagai teknik terkuat dari Hiten Mitsurugi Ryu.
Yang menarik, cerita tersebut juga memberikan konsekuensi fisik terhadap penggunaan gaya tersebut. Tubuh Kenshin digambarkan mengalami kerusakan karena tidak memiliki kondisi fisik yang dianggap sesuai untuk gaya tersebut. Dalam cerita, penggunaan Amakakeru Ryu no Hirameki berulang kali bahkan menyebabkan kerusakan otot permanen.
Tentu saja, itu adalah bagian dari dunia fiksi.
Namun justru di situlah muncul pertanyaan menarik.
Bagaimana dengan latihan pedang yang nyata?
Apakah latihan pedang memang tentang menjadi semakin cepat sampai tubuh tidak mampu mengikutinya?
Atau justru sebaliknya?
Dalam Iwama AIKIDO, latihan pedang melalui Aiki Ken memberikan perspektif yang sangat berbeda.
Tujuannya bukan menjadi Kenshin.
Bukan pula menjadi samurai anime.
Aiki Ken justru menggunakan pedang sebagai alat untuk membuat prinsip AIKIDO menjadi lebih jelas, lebih terukur, dan lebih sulit untuk disembunyikan oleh kesalahan teknik.
Aiki Ken ditulis dengan kanji 合気剣.
Secara sederhana, Aiki Ken adalah latihan pedang yang menggunakan prinsip AIKIDO.
Dalam tradisi Iwama, latihan ini dilakukan menggunakan bokken, yaitu pedang kayu dengan bentuk yang menyerupai katana.
Namun menyebut Aiki Ken hanya sebagai "latihan pedang di AIKIDO" sebenarnya masih kurang tepat.
Aiki Ken bukan sekadar mempelajari bagaimana cara memegang pedang, mengayunkan pedang, atau melakukan serangan.
Dalam tradisi yang dikembangkan di Iwama, latihan ken memiliki hubungan erat dengan taijutsu, yaitu teknik AIKIDO tanpa senjata.
Hubungan inilah yang dikenal dengan istilah riai, yaitu hubungan prinsip antara latihan senjata dan teknik tubuh.
Morihiro Saito Sensei menjelaskan bahwa AIKIDO yang ia pelajari terdiri dari taijutsu dan latihan senjata. Ia juga melihat hubungan erat antara prinsip pedang dan gerakan taijutsu.
Jadi ketika seorang praktisi Iwama berlatih Aiki Ken, ia tidak sedang meninggalkan AIKIDO untuk belajar ilmu pedang yang terpisah.
Ia sedang melihat AIKIDO dari sudut yang berbeda.
Mari kita lihat kata 合気剣 satu per satu.
合, dibaca ai, berkaitan dengan makna bertemu, menyatu, atau menyesuaikan.
Kanji yang sama juga terdapat dalam kata AIKIDO, 合気道.
気, dibaca ki, merupakan bagian kedua dari kata AIKI.
Sementara 剣, dibaca ken, berarti pedang.
Maka 合気剣 secara sederhana dapat dipahami sebagai ken yang menggunakan prinsip aiki.
Ini penting.
Aiki Ken bukan sekadar "ken".
Ia adalah ken yang dipelajari melalui prinsip AIKIDO.
Karena itu, fokusnya bukan hanya pada pedang sebagai benda, tetapi pada apa yang terjadi pada tubuh, jarak, waktu, pusat gerak, niat, dan hubungan dengan partner ketika pedang digunakan.
Aiki Ken berasal dari latihan senjata yang diajarkan oleh pendiri AIKIDO, O'Sensei Morihei Ueshiba.
Kemudian, sistem tersebut dikembangkan, disusun, dan diajarkan secara lebih sistematis oleh Morihiro Saito Sensei, yang berlatih langsung bersama O'Sensei di Iwama selama lebih dari 20 tahun. Sumber sejarah latihan Iwama mencatat bahwa Morihiro Saito Sensei mempelajari teknik ken dan jo langsung dari O'Sensei, kemudian menyusun materi tersebut menjadi sistem latihan yang lebih terstruktur.
Ini penting untuk memahami kenapa latihan Aiki Ken Iwama memiliki struktur yang cukup jelas.
Saito Sensei tidak sekadar mengumpulkan gerakan.
Ia mengembangkan cara mengajarkan latihan tersebut agar prinsipnya dapat dipelajari secara bertahap.
Salah satu hasilnya adalah struktur suburi dan kumitachi yang sampai sekarang menjadi bagian penting dari latihan Aiki Ken Iwama.
Ada satu kesalahpahaman yang cukup mudah muncul ketika melihat latihan Aiki Ken.
Karena ada pedang, orang mungkin berpikir:
"Berarti tujuan akhirnya adalah bisa bertarung menggunakan pedang."
Bukan itu fokus utamanya.
Dalam pendekatan Aiki Ken yang dikembangkan Morihiro Saito Sensei, latihan senjata dapat digunakan untuk memperbesar kesalahan kecil dalam teknik AIKIDO, sehingga kesalahan tersebut menjadi lebih mudah dilihat dan diperbaiki.
Pedang membuat detail yang sebelumnya samar menjadi lebih jelas. Pendekatan ini sejalan dengan katai keiko, yaitu latihan yang menekankan ketegasan, presisi, dan kemampuan menghadapi tekanan dalam proses belajar.
Postur yang sedikit salah menjadi lebih terasa.
Jarak yang kurang tepat menjadi lebih berisiko.
Gerakan kaki yang terlambat menjadi lebih terlihat.
Arah tubuh yang tidak tepat menjadi lebih sulit disembunyikan.
Dengan kata lain, pedang menjadi semacam cermin untuk teknik AIKIDO.
Salah satu sumber yang menjelaskan sistem Aiki Ken Iwama secara langsung juga menekankan fungsi senjata dalam memperjelas postur, bentuk, jarak, timing, awareness, dan kekurangan teknis yang mungkin tidak terlalu terlihat dalam latihan tangan kosong.
Dalam sistem Aiki Ken yang disusun oleh Morihiro Saito Sensei, latihan dasar dimulai dengan tujuh suburi.
Suburi adalah latihan gerakan pedang secara individual.
Gerakannya mencakup berbagai pola dasar potongan, perubahan posisi, langkah, dan tusukan.
Salah satu prinsip penting dalam sistem ini adalah bahwa suburi dipelajari sebelum masuk ke latihan berpasangan yang lebih kompleks.
Morihiro Saito Sensei menjelaskan bahwa tujuh suburi disusun dari gerakan yang terdapat dalam latihan kumitachi. Tujuannya agar praktisi memiliki dasar yang cukup sebelum melakukan latihan berpasangan secara aman dan benar.
Setelah dasar tersebut dipelajari, terdapat lima kumitachi, yaitu latihan berpasangan menggunakan bokken.
Di sini latihan menjadi lebih dinamis.
Ada dua orang.
Ada dua pedang.
Ada jarak.
Ada timing.
Ada serangan.
Ada respons.
Dan yang paling penting, ada konsekuensi langsung ketika salah satu elemen tersebut tidak tepat.
Beberapa dojo juga mengembangkan latihan jiyu waza menggunakan bokken, yaitu latihan bebas dengan senjata.
Namun struktur latihan dapat berbeda antar dojo.
Bayangkan kamu melakukan gerakan tangan kosong.
Kaki sedikit terlambat.
Pinggul sedikit tidak mengikuti.
Bahu sedikit tegang.
Jarak sedikit terlalu jauh.
Dalam latihan tertentu, kesalahan kecil seperti ini mungkin masih dapat ditutupi oleh gerakan partner.
Sekarang bayangkan gerakan yang sama dilakukan dengan bokken.
Pedang memperpanjang garis gerak tubuh.
Karena itu, kesalahan yang kecil pada tubuh dapat menghasilkan perubahan yang lebih jelas pada posisi ujung pedang.
Inilah salah satu alasan latihan senjata sangat menarik secara biomekanika.
Pedang membuat hubungan antara tubuh, ruang, dan objek yang bergerak menjadi lebih mudah diamati.
Penelitian biomekanika pada seni pedang lain juga menunjukkan bahwa gerakan memukul dengan senjata melibatkan koordinasi berbagai bagian tubuh, termasuk kaki, lutut, pinggul, bahu, lengan, dan pergerakan pusat massa. Penelitian pada kendo, misalnya, menemukan bahwa perubahan berat senjata memengaruhi sejumlah variabel kinematik tubuh dan gerakan senjata.
Ini bukan berarti hasil penelitian kendo otomatis berlaku persis untuk Aiki Ken.
Aiki Ken memiliki metode latihan dan tujuan yang berbeda.
Namun penelitian tersebut membantu menjelaskan prinsip biomekanika yang lebih umum:
gerakan pedang bukan hanya gerakan tangan.
Kalau kita melihat gerakan pedang secara biomekanika, tubuh bekerja sebagai sebuah sistem yang saling terhubung.
Ketika pedang bergerak, bukan hanya tangan yang bekerja.
Kaki memberikan dasar.
Pinggul membantu mengarahkan dan menghubungkan gerakan tubuh.
Batang tubuh meneruskan hubungan tersebut ke bahu.
Lengan membawa gerakan menuju pedang.
Dan akhirnya, pedang memperpanjang garis gerak tersebut ke ruang di depan tubuh.
Karena itu, gerakan yang terlihat sederhana dari luar sebenarnya melibatkan koordinasi seluruh tubuh.
Konsep ini berhubungan dengan apa yang dalam biomekanika sering disebut sebagai kinematic chain, yaitu bagaimana gerakan pada satu bagian tubuh terhubung dengan bagian tubuh lainnya.
Penelitian tentang gerakan eksplosif dalam olahraga lain juga menunjukkan bahwa koordinasi berurutan dari pinggul, lutut, dan pergelangan kaki dapat berkontribusi terhadap kemampuan menghasilkan gerakan yang efektif.
Dalam konteks latihan Aiki Ken, hal ini membantu kita memahami mengapa kualitas gerakan tidak cukup dibangun hanya dengan mengandalkan kekuatan lengan.
Pedang yang baik tidak membuat tubuh menjadi terpisah menjadi tangan, kaki, dan pinggul.
Justru sebaliknya.
Pedang memaksa semuanya untuk bekerja sebagai satu kesatuan.
Salah satu hal yang sering ditekankan dalam latihan Iwama adalah penggunaan tubuh yang terintegrasi.
Morihiro Saito Sensei sendiri pernah menjelaskan bahwa salah satu masalah yang sering terlihat pada praktisi adalah kerja pinggul yang belum benar, dan ia menggunakan latihan senjata untuk mengoreksinya.
Mengapa pinggul penting?
Karena AIKIDO bukan sekadar memindahkan tangan.
Ketika tubuh bergerak sebagai satu kesatuan, tangan tidak perlu bekerja sendirian.
Langkah menentukan posisi.
Pinggul membantu mengubah arah tubuh.
Postur menjaga struktur.
Lengan meneruskan gerakan.
Pedang kemudian menjadi perpanjangan dari seluruh sistem tersebut.
Inilah salah satu alasan latihan pedang dapat membantu praktisi memahami sesuatu yang terkadang sulit dirasakan dalam latihan tangan kosong.
Pedang membuat tubuh harus jujur.
Kalau kaki tidak mengikuti, pedang akan menunjukkannya.
Kalau tubuh kehilangan keseimbangan, pedang akan menunjukkannya.
Kalau arah gerak tidak jelas, pedang akan menunjukkannya.
Kembali ke satu konsep penting dalam AIKIDO, yaitu maai.
Dalam latihan tangan kosong, jarak antara dua orang sudah penting.
Ketika kedua orang memegang bokken, konsep tersebut menjadi semakin jelas.
Senjata memperpanjang jangkauan.
Artinya, jarak yang sebelumnya terasa aman dapat menjadi terlalu dekat ketika pedang masuk ke dalam persamaan.
Morihiro Saito Sensei sangat menekankan kehati hatian dalam latihan senjata karena kesalahan kecil pada jarak dan timing dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius dibanding latihan biasa. Ia juga menjelaskan bahwa dalam latihan dengan senjata, kontak dengan bilah secara konseptual harus diperlakukan sangat serius.
Karena itu, latihan Aiki Ken bukan tentang siapa yang paling cepat mengayunkan bokken.
Justru semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang terhadap maai, semakin ia memahami mengapa kecepatan tanpa kontrol bukanlah tujuan latihan.
Ada jarak.
Ada timing.
Ada kontrol.
Ada partner.
Dan ada tanggung jawab.
Di sinilah kita sampai pada salah satu konsep paling penting dalam Iwama AIKIDO, yaitu riai.
Riai menggambarkan hubungan prinsip antara bukiwaza, latihan menggunakan senjata, dan taijutsu, latihan tanpa senjata.
Dalam pendekatan Iwama, hubungan ini bukan sekadar kemiripan bentuk.
Ada prinsip gerak yang saling berhubungan.
Morihiro Saito Sensei bahkan menjelaskan bahwa gerakan taijutsu memiliki hubungan dengan gerakan pedang. Dalam penjelasannya, gerakan seperti shomenuchi, yokomenuchi, dan tsuki dapat dipahami melalui hubungan dengan pola serangan menggunakan pedang. Hubungan antara serangan, struktur tubuh, dan teknik tangan kosong ini juga dapat dilihat melalui konsep atemi dalam Aikido.
Dengan memahami riai, kita mulai melihat AIKIDO dari perspektif yang berbeda.
Gerakan tangan kosong tidak berdiri sendiri.
Ia memiliki hubungan dengan cara tubuh memasuki ruang.
Cara tubuh memindahkan pusat.
Cara kaki melangkah.
Cara pinggul berputar.
Cara seseorang menjaga garis tengah.
Dan cara seseorang berhubungan dengan partner.
Karena itu, latihan pedang dapat membantu memperjelas sesuatu yang kemudian muncul kembali dalam taijutsu.
Di sinilah salah satu perbedaan pendekatan Iwama mulai terlihat.
Tidak semua dojo AIKIDO memberikan porsi latihan senjata yang sama.
Ada dojo yang lebih menekankan taijutsu.
Ada yang menjadikan ken dan jo sebagai latihan tambahan.
Ada pula dojo yang tidak menjadikan latihan senjata sebagai bagian rutin dari kurikulumnya.
Itu merupakan perbedaan pendekatan dalam dunia AIKIDO, bukan sesuatu yang harus diposisikan sebagai siapa yang lebih baik.
Dalam tradisi Iwama yang diwariskan melalui Morihiro Saito Sensei, hubungan antara taijutsu, ken, dan jo justru menjadi bagian penting dari sistem latihan.
Saito Sensei menjelaskan bahwa AIKIDO yang ia pelajari terdiri dari taijutsu dan bukiwaza, dan ia melihat hubungan keduanya sebagai bagian dari tugasnya untuk mempertahankan pengajaran yang diterimanya dari O'Sensei.
Sumber lain mengenai tradisi Iwama juga menjelaskan riai sebagai prinsip yang menghubungkan teknik senjata dengan teknik tubuh.
Jadi dalam Iwama Style, Aiki Ken bukan sekadar tambahan supaya latihan terlihat lebih menarik.
Ia menjadi salah satu cara untuk memahami dari mana prinsip gerakan AIKIDO berasal dan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam situasi yang berbeda.
Kembali ke Kenshin.
Dalam dunia anime, pedang dapat menjadi sumber kekuatan super.
Kecepatan dapat dibuat hampir tidak masuk akal.
Satu teknik dapat menjadi pembeda antara hidup dan mati.
Tubuh karakter bahkan dapat dipaksa melampaui batas manusia untuk menghasilkan gerakan yang spektakuler.
Aiki Ken bergerak ke arah yang hampir berlawanan.
Tidak ada tujuan untuk membuat gerakan semakin spektakuler.
Tidak ada pencarian terhadap kecepatan yang mengorbankan kontrol.
Tidak ada usaha membuat tubuh terlihat seperti karakter anime.
Justru latihan dimulai dari hal yang sederhana.
Postur.
Pegangan.
Langkah.
Jarak.
Arah.
Potongan dasar.
Kemudian hubungan dengan partner.
Tujuh suburi.
Lima kumitachi.
Dan latihan yang dilakukan secara bertahap.
Inilah perbedaan mendasarnya.
Fantasi pedang sering membayangkan kekuatan sebagai kemampuan melakukan sesuatu yang luar biasa.
Latihan pedang nyata justru menuntut kemampuan melakukan sesuatu yang sederhana dengan semakin tepat.
Dalam latihan yang terstruktur, tujuan bukan menghancurkan tubuh demi menghasilkan kekuatan sesaat.
Tubuh justru dilatih agar mampu bergerak dengan koordinasi, struktur, kontrol, dan kesadaran yang lebih baik.
Pedang bukan alat untuk melupakan tubuh.
Pedang adalah alat untuk memahami tubuh.
Bokken memang terbuat dari kayu.
Tetapi dalam latihan Aiki Ken, bokken tidak diperlakukan sebagai mainan.
Morihiro Saito Sensei menekankan pentingnya mempelajari suburi terlebih dahulu sebelum masuk ke latihan kumitachi agar latihan berpasangan dapat dilakukan dengan lebih aman dan memiliki bentuk yang benar.
Ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting dalam Budo.
Teknik dan tanggung jawab tidak bisa dipisahkan.
Semakin besar potensi bahaya dari sebuah latihan, semakin besar pula kebutuhan terhadap kontrol.
Karena itu, latihan senjata membutuhkan perhatian terhadap jarak, timing, arah gerak, kontrol, dan kemampuan membaca partner.
Tidak ada ruang untuk bermain main.
Bahkan ketika senjata yang digunakan hanyalah bokken.
Bagi generasi yang hidup dalam dunia serba cepat, latihan pedang mungkin terlihat seperti sesuatu yang sangat jauh dari kehidupan sehari hari.
Tetapi justru di situlah relevansinya.
Kita hidup dalam dunia yang penuh notifikasi.
Semua ingin cepat.
Respons harus cepat.
Konten bergerak cepat.
Tren berubah cepat.
Kita terbiasa mengejar hasil sebelum benar benar memahami proses.
Aiki Ken menawarkan kebalikan dari budaya tersebut.
Satu gerakan diulang.
Kemudian diulang lagi.
Dan lagi.
Bukan karena gerakannya sulit dilihat.
Justru karena gerakan sederhana membutuhkan waktu untuk benar benar dikuasai.
Latihan mengajarkan bahwa kecepatan bukan selalu tanda kemajuan.
Kadang kemajuan terlihat ketika gerakan menjadi lebih tenang.
Lebih presisi.
Lebih terkontrol.
Lebih sadar.
Ini adalah pelajaran yang relevan bukan hanya untuk beladiri, tetapi juga untuk kehidupan.
Sekarang kita kembali kepada pertanyaan awal.
Kenapa latihan pedang di AIKIDO berbeda dari fantasi anime?
Karena tujuan Aiki Ken bukan menciptakan manusia super.
Aiki Ken menggunakan pedang untuk membuat prinsip AIKIDO lebih jelas.
Pedang memperjelas jarak.
Pedang memperjelas timing.
Pedang memperjelas struktur tubuh.
Pedang memperjelas arah.
Pedang memperbesar kesalahan.
Dan pedang mempertemukan kita dengan kebutuhan untuk mengendalikan diri.
Inilah yang membuat Aiki Ken menjadi salah satu bagian penting dari pendekatan Iwama AIKIDO.
Di banyak pendekatan AIKIDO, latihan senjata dapat memiliki porsi dan fungsi yang berbeda.
Dalam tradisi Iwama yang diwariskan melalui Morihiro Saito Sensei, taijutsu, ken, dan jo dipandang sebagai bagian yang saling berhubungan melalui riai.
Karena itu, di Iwama Aikido Busenkai Surabaya, Dojo Antares, latihan Aiki Ken bukan sekadar kesempatan untuk memegang bokken.
Ia merupakan bagian dari cara memahami AIKIDO secara lebih utuh.
Kamu belajar melihat hubungan antara pedang dan tubuh.
Antara jarak dan timing.
Antara gerakan dan struktur.
Antara teknik dan kesadaran terhadap tenaga dan niat dalam latihan.
Dan pada akhirnya, antara latihan di dojo dengan cara kita membawa diri dalam kehidupan.
Mungkin setelah melihat latihan Aiki Ken, kamu akan sadar bahwa kenyataan ternyata jauh lebih sederhana daripada anime.
Tidak ada tebasan yang membelah langit.
Tidak ada gerakan super cepat yang membuat dunia berhenti.
Tidak ada tubuh yang harus dihancurkan demi satu teknik pamungkas.
Yang ada justru latihan yang berulang.
Satu langkah.
Satu potongan.
Satu jarak.
Satu partner.
Lalu diulang lagi.
Di situlah nilai Aiki Ken sebenarnya mulai terlihat.
Pedang tidak digunakan untuk membuat seseorang terlihat lebih kuat.
Pedang digunakan untuk membuat seseorang lebih sadar terhadap bagaimana tubuhnya bergerak.
Dan mungkin itulah alasan kenapa latihan pedang tetap relevan di era modern.
Karena semakin cepat dunia bergerak, semakin penting kemampuan untuk berhenti sejenak, merasakan tubuh, membaca ruang, dan melakukan sesuatu dengan benar.
Bagi Iwama Aikido Busenkai Surabaya, Aiki Ken merupakan salah satu bagian yang membuat pendekatan latihan kami memiliki karakter tersendiri.
Bukan karena pendekatan ini harus dianggap lebih baik daripada aliran AIKIDO lainnya.
Tetapi karena dalam tradisi Iwama, hubungan antara ken, jo, dan taijutsu merupakan bagian penting dari cara memahami AIKIDO. Pendekatan ini juga sejalan dengan filosofi Aikido yang tidak menjadikan latihan sebagai perlombaan untuk mengalahkan orang lain, tetapi sebagai proses memahami diri, partner, dan harmoni.
Dan mungkin, setelah memahami itu, kita bisa melihat pedang dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai senjata fantasi.
Bukan sebagai simbol kekuatan.
Tetapi sebagai sebuah alat latihan.
Sebuah cermin.
Dan sebuah jalan untuk memahami tubuh, gerak, jarak, partner, dan diri sendiri dengan lebih dalam.
Aiki Ken bukan tentang menjadi manusia super.
Aiki Ken adalah tentang menjadi semakin sadar terhadap manusia yang sedang kita latih.
Kalau kalian tertarik belajar ilmu pedang Aiki Ken AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.