Ada satu kata yang sering diteriakkan O'Sensei waktu melihat murid-muridnya latihan asal-asalan.
"Nattoran!"
Artinya kurang lebih, "Tidak bisa diterima!"
Cerita di balik teriakan ini mengungkap sesuatu yang jarang diketahui orang soal AIKIDO, bahwa di balik kesan lembut dan mengalir yang sering ditampilkan di permukaan, ada tuntutan latihan yang jauh lebih keras dari yang dibayangkan kebanyakan orang.
Di Hombu Dojo Tokyo, O'Sensei sering marah besar.
Bukan karena murid-muridnya nakal. Tapi karena mereka melakukan apa yang disebut "flowing training", latihan mengalir yang halus dan mulus, padahal diminta berlatih dengan tepat dan tajam.
Kelihatannya bagus di mata orang awam. Gerakannya mulus, terlihat mahir, dan enak dipandang. Tapi bagi O'Sensei, itu bukan latihan yang sesungguhnya. Latihan yang terlalu halus sejak awal justru menghindari bagian tersulit yang seharusnya dilatih.
Saking seringnya kejadian ini, O'Sensei akhirnya berhenti mengajar rutin di Hombu Dojo.
Ia lebih memilih pulang ke Iwama, tempat di mana ia bisa menghentak kaki dan berteriak setiap kali melihat latihan yang tidak sesuai standar.
Ini bukan cerita rekaan. Cerita ini dicatat langsung oleh Morihiro Saito Sensei, dalam wawancara yang dikenal dengan judul Budoka no Kotae. Saito Sensei tinggal bersama O'Sensei selama lebih dari dua puluh tahun di Iwama, sehingga kesaksiannya soal pengalaman langsung ini menjadi salah satu sumber paling terpercaya soal metode mengajar O'Sensei di masa itu.
Di Iwama, latihan yang diajarkan O'Sensei dan diteruskan Saito Sensei punya nama sendiri.
Katai-keiko (固い稽古), latihan keras tanpa menahan diri.
Kazuo Chiba, murid tinggal (uchideshi) O'Sensei di Hombu Dojo Tokyo, secara khusus mengenang betapa intensnya latihan yang terjadi di dojo Iwama dibanding tempat lain. Chiba menekankan bahwa fokus Saito Sensei pada katai-keiko ini adalah warisan langsung dari apa yang diajarkan Ueshiba sendiri, bukan interpretasi tambahan dari Saito Sensei.
Ini yang membedakan Iwama Aikido dari banyak interpretasi AIKIDO lainnya.
Bukan soal siapa yang paling keras memukul atau mencengkeram. Tapi soal komitmen untuk tidak menghindar dari ketidaknyamanan latihan yang sesungguhnya.
Genggaman yang kuat, gerakan yang tajam, tekanan yang nyata. Semua ini tidak dikurangi supaya terlihat halus atau nyaman ditonton. Justru elemen elemen inilah yang dipertahankan, karena di situlah letak pembelajaran yang sesungguhnya.
Banyak orang mengira AIKIDO itu lembut karena hasil akhirnya terlihat mengalir dan elegan.
Tapi yang jarang diperlihatkan adalah proses di baliknya. Bertahun tahun latihan keras, presisi yang dituntut sampai ke detail terkecil, dan kesediaan menerima koreksi yang tidak selalu nyaman.
Kelembutan yang terlihat di permukaan lahir dari ketegasan yang dilatih bertahun tahun sebelumnya. Bukan sebaliknya.
Katai-keiko mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi sering dilupakan.
Latihan yang terlalu nyaman dari awal jarang menghasilkan sesuatu yang kuat.
O'Sensei tidak marah karena murid-muridnya kurang sopan. Ia marah karena mereka melewatkan bagian tersulit, yang justru paling penting untuk dilatih.
Inilah salah satu alasan mengapa Iwama Aikido Busenkai Surabaya tetap mempertahankan standar latihan yang tegas dan presisi, sesuai dengan tradisi yang diwariskan langsung dari O'Sensei melalui Morihiro Saito Sensei.
So..buat kalian yang penasaran gimana sih cara latihan Aikido Iwama itu langsung, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.