Kita mundur dikit ke masa mudanya Ueshiba Sensei. Kalian percaya nggak, sebelum jadi "founder of Aikido" yang bisa ngebanting orang sambil senyum, Ueshiba Sensei muda itu aslinya introvert parah dan kondisi fisiknya lemah. Relate nggak tuh sama kaum muda tapi jompo masa kini? π
Menurut catatan sejarah, dia lahir tahun 1883 di desa Tanabe. Secara ekonomi dia lumayan sultan lho. Bapaknya, Yoroku, adalah tuan tanah tajir dan politisi lokal di desanya.
Masalahnya, fisik Ueshiba Sensei kecil itu lemah banget. Dia lebih suka mojok di kamar baca buku atau main ke kuil belajar filosofi agama, daripada main fisik di luar. Bapaknya gregetan dong, nyuruh dia latihan berenang dan Sumo, tapi dianya kurang minat.
Sampai akhirnya, terjadi satu tragedi kelam yang jadi origin story-nya. Gara-gara urusan politik desa yang panas, bapaknya dikeroyok habis-habisan sama preman bayaran lawan politiknya. Dan Ueshiba Sensei muda cuma bisa ngelihat bapaknya digebukin tanpa bisa menolong.
Coba bayangin ada di posisi dia. Liat orang tua sendiri diinjek-injek, tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain karena kita ngerasa "lemah". Rasa powerless, sedih, marah, dan trauma itu ngumpul jadi satu. Di detik itulah dia nangis dan bersumpah: "Gue harus jadi kuat, sekuat-kuatnya. Nggak boleh ada satu pun orang yang bisa nindas keluarga gue lagi."
Dari anak rumahan yang sakit-sakitan, Ueshiba Sensei ngubah trauma itu jadi bensin buat glow-up fisik gila-gilaan. Villain arc mulai aktif nih. π₯
Dia latihan beban ekstrem, ikut Sumo, dan di usia belasan akhir nekat merantau ke Tokyo buat belajar Tenjin Shin'yo-ryu Jujutsu (ilmu banting dan kuncian tradisional). Pokoknya tujuannya cuma satu, jadi mesin petarung. Sayangnya, latihannya kepotong karena dia kena penyakit beri-beri dan terpaksa pulang.
Tapi dia udah terlanjur keranjingan pengen kuat. Nggak bisa latihan di dojo, tahun 1903 dia daftar wamil (wajib militer)! Awalnya dia sempet ditolak karena tinggi badannya cuma sekitar 156 cm (kurang dari standar). Saking obsesinya, dia gelantungan di pohon tiap hari biar tulang punggungnya ketarik dan nambah tinggi π. Akhirnya dia lolos dan dikirim ke Perang Rusia-Jepang.
Di militer, insting petarungnya makin buas. Dia jadi ahli Juken-jutsu (pertarungan pisau bayonet di ujung senapan). Nggak cuma dinas, di waktu luangnya dia nekat berguru Yagyu Shingan-ryu, salah satu aliran bela diri samurai kuno yang gerakannya terkenal agresif dan brutal. Pokoknya saat itu mindset-nya cuma satu: hancurkan lawan sebelum dihancurkan.
Setelah latihan gila-gilaan, Ueshiba Sensei muda akhirnya dikirim ke garis depan Perang Rusia-Jepang (1904) di Manchuria. Di sana, dia bukan cuma jadi prajurit biasa. Saking brutal dan kuatnya, teman-temannya sampai ngasih dia julukan: "Dewa Prajurit" (Kami-sama no Heitai). ποΈ
Tinggi badannya memang cuma 156 cm, tapi dia bisa lari bawa perbekalan puluhan kilo di medan tempur yang bersalju, tanpa ngos-ngosan. Yang paling bikin komandannya melongo adalah skill tempur jarak dekatnya pakai senapan berbayonet. Ada satu kejadian ikonik: komandannya suka iseng ngetes dia, disuruh sparring ngadepin beberapa prajurit berbadan besar sekaligus. Hasilnya? Nggak ada satu pun yang bisa nyentuh dia. Ueshiba Sensei seolah punya "indra keenam", bisa baca ke mana arah serangan lawan sepersekian detik sebelum lawannya benar-benar gerak! π€―
Gerakan menusuk, menangkis, memutar, dan footwork dari bayonet militer inilah yang puluhan tahun kemudian dikembangkan dan dihalusin jadi teknik tongkat (Aiki Jo) dan ilmu pedang (Aiki Ken) dalam AIKIDO. Dari alat membunuh, diubah total jadi alat untuk menyelaraskan energi. Mindblowing! π₯’β¨
Saking dewanya skill Ueshiba Sensei, komandan tertingginya turun tangan langsung, direkomendasikan masuk Akademi Militer Nasional. Buat pemuda desa di zaman itu, ini ibarat dapet golden ticket, jaminan karir mentereng, bisa jadi Jenderal, masa depan finansial aman jaya seumur hidup.
Tapi tebak apa yang dilakuin? Di saat semua orang ngejar jabatan itu, dia TOLAK mentah-mentah dan milih resign dari militer setelah perang selesai! Temen-temen dan keluarganya pada shock berat. π±
Dengan status pengangguran berotot kawat tulang besi, dia pulang kampung, lalu mutusin buat buka lahan di daerah yang dinginnya ekstrem: Hokkaido. Dan di padang salju Hokkaido inilah, takdir nemuin dia sama "final boss" persilatan Jepang.
Yep, namanya Sokaku Takeda Sensei. Grandmaster dari aliran bela diri super rahasia, Daito-ryu Aiki-jujutsu. Ilmu purba yang dulu cuma boleh dipelajari sama klan samurai tingkat atas.
Bayangin scene-nya. Tahun 1915, di sebuah penginapan di Engaru, pedalaman Hokkaido. Ueshiba Sensei yang saat itu umur 32 tahun, mantan tentara elit dengan otot segede gaban, ngelihat Takeda. Takeda ini umurnya udah hampir 60 tahun, tingginya cuma sekitar 150 cm, kurus pula. Keliatan kayak kakek-kakek biasa kan? Ternyata penampilannya itu scam terbesar abad ini. π₯Ά
Ueshiba Sensei yang super PD dengan fisik militernya nyoba "ngetes" si kakek lewat sparring. Hasilnya? Dalam hitungan detik, dia dibanting, dilipat, dan dikunci di lantai sampai nggak bisa gerak sama sekali! Takeda cuma pakai beberapa jari buat ngunci sendinya. Tanpa ngeluarin keringat sedikitpun, dia bikin sang pahlawan perang ngerasa kayak anak balita. πΆπ₯
Ueshiba Sensei langsung sadar! Ilmu pedang, bayonet, dan adu ototnya sama sekali nggak mempan. Rahasia Takeda ada di ilmu manipulasi sendi dan ngerusak titik keseimbangan lawan, yang kelak jadi pondasi penting di AIKIDO. Ego-nya hancur lebur. Tapi detik itu juga dia mikir: "Gue HARUS nguasain ilmu ini, gimanapun caranya!"
Takeda ini karakternya keras, materialistis, dan demanding banget. Buat diajarin satu jurus aja, Ueshiba Sensei harus bayar tarif khusus yang gila-gilaan. Dia sampai ngabisin uang warisan bapaknya buat bayar les privat ini. πΈ Gak cuma nguras harta, dia juga all out sampai bawain air mandi, motongin kayu, sampai nyiapin makan.
Fun fact, Takeda ini orangnya super paranoid. Saking takutnya diracun atau dibunuh musuh, dia nggak mau makan kalau nggak dicicipin orang lain duluan. Bahkan pas ke pemandian umum, dia jalan sambil bawa pedang tersembunyi di balik handuknya! π‘οΈπ
Meskipun mentornya ini rada toxic dan eksentrik, Ueshiba Sensei bertahan bertahun-tahun. Semuanya dia serap habis-habisan sampai dapet lisensi mengajar tertinggi (Kyoju Dairi). Secara teknis, dia udah berevolusi jadi "mesin tempur" yang sempurna, fisik sekuat tentara, ditambah teknik kuncian mematikan dari gurunya.
Tapi persis kayak fase hidup yang sering kita alamin, di puncak rantai makanan ini, batin Ueshiba Sensei justru bergejolak parah. Dia ngelihat gurunya yang jago banget tapi hidupnya penuh ketakutan dan selalu ngeliat orang lain sebagai ancaman. Dia sadar: "Kalau puncak dari kekuatan adalah hidup penuh kecurigaan dan rasa takut, buat apa gue repot-repot jadi kuat?" π―
Dari keresahan inilah, benih AIKIDO yang sesungguhnya, yang bukan cuma soal kekuatan tapi soal ketenangan, mulai tumbuh di kepalanya. Nah nanti kita lanjut tentang perjalanan hidup O'Sensei di part 3.
Cerita Ueshiba Sensei ini bukan cuma soal jadi kuat, tapi soal proses nyari makna di balik kekuatan itu. Nilai yang sama itu yang masih dijaga dan dilatih tiap Sabtu di Dojo Antares, Surabaya.
Kalau kalian penasaran gimana rasanya latihan yang lahir dari perjalanan panjang ini, cara paling gampang buat ngerasainnya bukan lewat baca doang. Langsung, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.