Pada jaman dahulu kala di Jepang, hiduplah seorang yang bernama Morihei Ueshiba. Nah dia ini walaupun posturnya pendek tapi suka sekali belajar memperdalam beladiri. Usut punya usut, waktu kecil fisik Ueshiba Sensei ini lumayan lemah dan sering sakit-sakitan. Gara-gara nggak mau terus-terusan jadi bulan-bulanan keadaan, dia akhirnya bertekad buat latihan fisik gila-gilaan. Semua bela diri dicobain.
Singkat cerita, sampailah Ueshiba Sensei di usia 30-an. Waktu itu dia lagi merantau ke Hokkaido (bayangin daerah utara Jepang yang dinginnya ampun-ampunan). Di sanalah takdir pertemuannya dengan "final boss" dunia persilatan Jepang saat itu terjadi. Namanya: Sokaku Takeda.
Bisa dibilang Sokaku Takeda ini karakternya unik tapi lethal alias mematikan. Dia pendekar dari aliran rahasia bernama Daito-ryu Aiki-jujutsu. Bela dirinya nggak main tonjok-tonjokan biasa. Takeda pakai prinsip manipulasi sendi dan keseimbangan. Segede apapun lawannya, kalau udah dipegang Takeda, bakal terlipat rapi kayak kertas origami. Sakitnya nggak usah ditanya. 🦴💥
Waktu liat Takeda beraksi, Ueshiba Sensei muda langsung mindblown 🤯. Dia ngerasa semua bela diri yang dia pelajarin sebelumnya nggak ada apa-apanya.
Saking terobsesinya pengen jago, Ueshiba Sensei ngabisin semua uang tabungannya buat bayar biaya belajar ke Takeda yang mahal banget. Nggak cuma itu, dia bahkan rela jadi pelayan pribadinya. Bawain air, potong kayu, nyiapin mandi, asal sang guru mau nurunin ilmunya.
Kerja kerasnya nggak mengkhianati hasil. Bertahun-tahun digembleng, Ueshiba Sensei akhirnya jadi murid kesayangan dan berhasil nguasain teknik-teknik mematikan itu. Secara fisik dan skill, dia udah ada di puncak rantai makanan. Nggak ada yang berani macem-macem. Udah TOP BOS lah.
Tapi lucunya, justru di titik puncak itulah, Ueshiba Sensei ngalamin quarter-life/mid-life crisis. Walaupun dia udah jago banget banting dan ngunci orang, hatinya malah ngerasa galau. Dia mikir keras: "Masa iya tujuan hidup gue cuma buat mengalahkan orang lain? Kalau gue menang terus dengan cara ngancurin orang, kapan siklus musuh-musuhan ini berhenti?"
Ilmu dari gurunya (Sokaku Takeda) ibarat hardware super canggih, tapi Ueshiba Sensei sadar dia butuh software (mindset) yang lebih damai buat ngejalanin hidupnya. Dari keresahan inilah, cikal bakal AIKIDO perlahan lahir di kepalanya.
Kayaknya fase ini relate banget sama kita-kita sekarang. Pernah nggak sih kalian ngejar sesuatu mati-matian (entah itu target prestasi, kerjaan, karir, atau pengakuan), tapi begitu nyampe di puncak malah ngerasa kosong dan mikir: "Terus abis ini apa? Kok nggak sebahagia yang gue bayangin? Masak cuma gini doang??"
Pas Ueshiba Sensei lagi galau-galaunya nyari makna hidup, eh plot twist, dunia malah makin gila. Perang Dunia II meledak. Jepang masuk ke era militerisme yang keras banget.
Sebagai guru bela diri top, banyak muridnya yang dipanggil militer buat maju perang, dan nggak sedikit yang pulang tinggal nama. Hati Ueshiba Sensei hancur ngeliat bela diri yang dia cintai cuma dipakai buat alat saling bunuh. 💔
Di Iwama, gaya hidupnya berubah total. Dari yang tiap hari banting orang di atas matras, sekarang dia tiap hari megang cangkul. Iya, dia banting setir jadi petani! 🌾
Sambil bertani, dia juga bikin dojo kayu kecil-kecilan di tengah hutan. Di sinilah terjadi sinkronisasi epik: dia ngerasa bahwa bertani (menumbuhkan kehidupan) dan bela diri (melindungi kehidupan) itu ternyata filosofinya sama.
Puncaknya, di bawah rimbunnya pohon-pohon desa Iwama, Ueshiba Sensei ngelewatin momen pencerahan spiritual (Satori). Dia akhirnya nemuin "software" yang selama ini dia cari. Dia sadar: "Budo (jalan ksatria) sejati itu bukan tentang mengalahkan orang lain. Budo sejati adalah energi cinta kasih yang menyatukan alam semesta." Berdamai dengan diri sendiri dan musuh, bukan menghancurkan. 🤯✨
Dari pencerahan di Iwama inilah, AIKIDO benar-benar lahir dalam bentuk sempurnanya. Teknik-teknik mematikan dari gurunya (Sokaku Takeda) dia rombak habis-habisan. Dikunci, dibanting, atau dipukul lawan? Alihkan energinya. Jangan lukai musuhmu, tapi buat mereka sadar kalau menyerang itu perbuatan sia-sia. Bela diri yang melindungi yang diserang, sekaligus melindungi yang menyerang. Mindblowing, kan? Nanti kita lanjut lagi ya ceritanya ke part 2.
Oiya yang penasaran setelah baca ini dan pingin tau gimana sih AIKIDO itu? Kalau kalian tertarik mencoba beladiri AIKIDO Surabaya Barat langsung, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.