Aiki Jo, latihan tongkat dalam AIKIDO, bukan sekadar latihan senjata. Dalam tradisi Iwama, latihan ini menjadi cara untuk memahami hubungan antara arah, jarak, timing, perubahan gerak, dan prinsip AIKIDO itu sendiri.
Bagi orang yang baru mengenal AIKIDO, melihat dua orang berlatih menggunakan jo mungkin menimbulkan pertanyaan sederhana.
Bukankah AIKIDO adalah beladiri tangan kosong?
Pertanyaan tersebut wajar. AIKIDO memang lebih dikenal melalui teknik seperti lemparan, kuncian, dan gerakan tubuh berpasangan. Namun dalam tradisi Iwama, latihan AIKIDO tidak hanya berhenti pada taijutsu atau teknik tangan kosong. Ada pula latihan menggunakan bokken melalui Aiki Ken, serta latihan menggunakan jo yang dikenal sebagai Aiki Jo.
Keduanya bukan sekadar tambahan agar latihan terlihat lebih tradisional.
Dalam pendekatan Iwama, latihan senjata memiliki hubungan erat dengan taijutsu. Gerakan kaki, posisi tubuh, penggunaan pinggul, arah gerakan, jarak dan timing yang kita pelajari melalui bukiwaza membantu kita memahami prinsip yang kemudian muncul kembali dalam latihan tangan kosong.
Salah satu hal yang menarik dari Aiki Jo adalah bagaimana latihan ini mengajarkan kita untuk berubah tanpa kehilangan pusat.
Aiki Jo ditulis dengan kanji 合気杖.
Untuk pembaca yang belum mengenal bahasa Jepang, kanji tersebut sebenarnya cukup mudah dipecah.
合, dibaca ai, memiliki makna bertemu, menyatu, atau menyesuaikan. Kanji ini juga terdapat dalam kata AIKIDO, yaitu 合気道.
気, dibaca ki, merupakan karakter yang juga terdapat dalam AIKIDO.
Sedangkan 杖, dibaca jo, berarti tongkat.
Secara sederhana, Aiki Jo dapat dipahami sebagai latihan menggunakan jo berdasarkan prinsip aiki.
Tetapi pengertian tersebut belum menjelaskan mengapa jo menjadi bagian penting dalam tradisi Iwama.
Jo bukan sekadar benda yang dipegang oleh tangan. Ketika seseorang berlatih dengan jo, gerakan tangannya tidak bisa berdiri sendiri. Posisi kaki, pinggul, postur, keseimbangan, arah gerak dan hubungan dengan partner semuanya ikut menentukan apa yang terjadi pada ujung jo.
Karena itu, jo bisa menjadi seperti sebuah alat pembesar.
Kesalahan kecil yang mungkin tidak terlalu terasa dalam latihan tangan kosong dapat menjadi jauh lebih jelas ketika kita memegang jo.
Latihan ken dan jo bukan sesuatu yang muncul belakangan sebagai tambahan untuk membuat AIKIDO terlihat lebih tradisional.
O'Sensei sendiri mengembangkan dan mengajarkan latihan senjata di Iwama.
Salah satu murid yang memiliki kesempatan sangat panjang untuk berlatih langsung bersama O'Sensei di Iwama adalah Morihiro Saito Sensei. Ia kemudian memainkan peran penting dalam menyusun dan mengembangkan sistem latihan ken dan jo agar dapat dipelajari serta diajarkan secara lebih sistematis.
Hal ini penting untuk memahami posisi Aiki Jo dalam tradisi Iwama.
Materi latihan yang kita kenal sekarang tidak semata mata merupakan kumpulan gerakan yang dihafalkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Morihiro Saito Sensei berusaha mengorganisasi materi yang diterimanya dari O'Sensei menjadi sebuah sistem latihan yang memiliki struktur dan tahapan.
Dengan cara tersebut, hubungan antara latihan solo, latihan berpasangan, kata, dan prinsip AIKIDO menjadi lebih mudah dipelajari.
Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh Hitohira Saito Sensei, yang melanjutkan pengajaran melalui organisasi Iwama Shinshin Aiki Shuren Kai.
Salah satu dasar latihan Aiki Jo adalah suburi.
Suburi adalah latihan gerakan secara individual. Praktisi berlatih tanpa partner untuk membangun koordinasi tubuh, arah gerakan, postur, langkah dan penggunaan jo.
Dalam sistem Iwama, terdapat rangkaian 20 Jo Suburi.
Bagi orang yang baru melihatnya, pengulangan suburi mungkin tampak sederhana. Bahkan bisa terlihat seperti hanya mengulang gerakan yang sama berkali kali.
Namun justru di situlah nilai latihan tersebut.
Ketika pertama kali mempelajari sebuah gerakan, perhatian kita biasanya terbagi ke banyak hal. Kita harus memikirkan posisi kaki, tangan, arah jo, postur dan urutan gerakan pada saat yang sama.
Melalui pengulangan, gerakan perlahan menjadi lebih terkoordinasi.
Kita mulai memahami bahwa gerakan jo sebenarnya bukan pekerjaan tangan saja. Gerakan yang baik melibatkan seluruh tubuh.
Dari sini latihan kemudian berkembang menuju kata, yaitu rangkaian gerakan yang lebih panjang dan terstruktur.
Dalam tradisi Iwama dikenal antara lain 13 Jo Kata dan 31 Jo Kata.
Kata memberikan kesempatan untuk mempelajari hubungan antara berbagai gerakan dalam sebuah rangkaian. Namun masih ada satu langkah penting yang perlu dilakukan.
Kita harus mempertemukan latihan tersebut dengan partner.
Di sinilah kita masuk ke awase.
Ketika berlatih sendirian, kita bisa mengontrol seluruh situasi.
Kita tahu gerakan apa yang akan dilakukan berikutnya. Kita tahu kapan harus maju, kapan harus mundur, dan ke mana jo akan bergerak.
Partner mengubah semuanya.
Sekarang ada orang lain yang bergerak di hadapan kita. Ada jarak yang harus dijaga. Ada timing yang harus diperhatikan. Ada serangan dan respons yang harus dipahami.
Inilah salah satu fungsi awase.
Secara sederhana, awase dapat dipahami sebagai latihan mempertemukan atau menyelaraskan gerakan dengan partner.
Tetapi awase bukan sekadar bergerak bersamaan.
Ketika dua orang melakukan latihan dengan jo, masing masing harus mulai memahami hubungan antara gerakan dirinya dengan gerakan orang lain. Kalau terlalu cepat, hubungan tersebut hilang. Kalau terlambat, timing tidak lagi tepat. Kalau jaraknya salah, gerakan yang sebenarnya benar dapat menjadi tidak efektif.
Dengan demikian, awase menjadi jembatan antara latihan solo dan latihan berpasangan yang lebih kompleks.
Kita tidak lagi hanya bertanya, "Apakah gerakan saya benar?"
Kita mulai bertanya, "Apakah gerakan saya tetap benar ketika ada orang lain yang bergerak bersama saya?"
Dalam latihan Aiki Jo dikenal beberapa bentuk awase, termasuk 6 Jo Awase, 13 Jo Awase, dan 31 Jo Awase.
Ketiganya memberikan pengalaman berbeda dalam mempertemukan gerakan jo dengan partner.
Untuk memahami bagian ini, penting untuk tidak melihat angka tersebut hanya sebagai jumlah gerakan yang harus dihafalkan.
Angka 13 dan 31 juga berkaitan dengan rangkaian 13 Jo Kata dan 31 Jo Kata yang dipelajari secara individual. Ketika prinsip dan rangkaian gerak tersebut digunakan dalam latihan berpasangan, praktisi mulai mengalami bagaimana sebuah gerakan bekerja dalam hubungan dengan orang lain.
Hal ini mengubah pengalaman latihan secara signifikan.
Ketika melakukan kata sendirian, kita sudah mengetahui rangkaian yang akan datang. Dalam awase, perhatian kita harus keluar dari diri sendiri dan mulai memperhatikan partner.
Kita harus membaca gerakannya.
Kita harus menjaga jarak.
Kita harus mengetahui kapan masuk dan kapan menyesuaikan diri.
Gerakan yang sebelumnya terasa seperti hafalan mulai memiliki konteks.
6 Jo Awase merupakan salah satu bentuk latihan berpasangan yang dikenal dalam pengajaran Aiki Jo.
Seperti awase lainnya, fokusnya bukan sekadar menyelesaikan rangkaian gerakan sampai akhir. Praktisi belajar mempertemukan gerakan dengan partner dan menjaga hubungan sepanjang latihan.
Bentuk yang relatif singkat seperti ini juga memberikan kesempatan untuk memperhatikan detail. Jarak yang sedikit berubah, langkah yang terlalu besar, atau timing yang terlambat dapat langsung terasa karena kedua orang harus bergerak dalam hubungan yang sama.
13 Jo Awase berkaitan dengan struktur 13 Jo Kata.
Ketika rangkaian gerakan yang dipelajari secara individual mulai digunakan bersama partner, praktisi mendapatkan pengalaman baru. Sekarang gerakan tidak hanya memiliki arah, tetapi juga memiliki hubungan dengan serangan dan respons partner.
Perhatian terhadap ruang menjadi semakin penting.
Kita harus memahami dari mana gerakan datang, bagaimana tubuh merespons, dan bagaimana mempertahankan keseimbangan ketika gerakan terus berlanjut.
Di sinilah latihan mulai terasa lebih hidup.
Gerakan yang sebelumnya tampak seperti rangkaian teknik mulai menjadi sebuah percakapan fisik antara dua orang.
Hal yang sama dapat ditemukan dalam 31 Jo Awase, yang berkaitan dengan materi 31 Jo.
Dengan jumlah gerakan yang lebih panjang, tantangannya bukan hanya mengingat urutan. Praktisi harus menjaga kualitas gerakan dan hubungan dengan partner sepanjang rangkaian.
Semakin panjang sebuah rangkaian, semakin mudah seseorang kehilangan detail.
Postur mulai berubah.
Langkah mulai tidak konsisten.
Jarak mulai bergeser.
Timing mulai terlambat.
Karena itu, latihan seperti 31 Jo Awase juga dapat menjadi cara untuk melihat apakah prinsip yang dipelajari benar benar sudah mulai menjadi bagian dari gerakan tubuh, atau masih sebatas hafalan.
Ada satu kesalahpahaman yang mudah muncul ketika seseorang pertama kali melihat latihan awase.
Dari luar, dua orang terlihat seperti sedang melakukan koreografi yang sudah dihafalkan.
Namun tujuan latihan tidak berhenti pada kemampuan mengingat urutan.
Yang sedang dilatih adalah hubungan/koneksi.
Kita belajar memahami gerakan partner tanpa kehilangan gerakan sendiri. Kita belajar masuk pada waktu yang tepat tanpa terburu buru. Kita belajar menjaga jarak tanpa terlalu takut mendekat.
Dalam arti tertentu, partner menjadi cermin yang bergerak.
Ia menunjukkan sesuatu yang mungkin tidak kita sadari ketika berlatih sendiri.
Kita mungkin merasa langkah sudah benar, tetapi ternyata terlalu jauh. Kita mungkin merasa bergerak cepat, tetapi ternyata timing kita terlambat. Kita mungkin merasa tubuh sudah stabil, tetapi ternyata keseimbangan berubah ketika partner memberikan tekanan.
Awase membuat semua itu terlihat.
Dan justru karena itulah latihan ini penting.
Ada sebuah kalimat yang menarik untuk menggambarkan karakter latihan Aiki Ken dan Aiki Jo:
Aiki Ken belajar arah. Aiki Jo belajar perubahan.
Aiki Ken dan Aiki Jo walapun menggunakan 2 jenis senjata yang berbeda namun keduanya memiliki ikatan yang kuat.
Ketika berlatih Aiki Ken, garis gerakan terasa sangat jelas. Ada arah potongan, centerline, langkah dan posisi tubuh terhadap garis tersebut. Kesalahan arah dapat membuat keseluruhan gerakan kehilangan kualitasnya.
Dalam Aiki Jo, arah tetap sangat penting. Tetapi karakter gerakan jo memberikan banyak kesempatan untuk mengalami transisi dan perubahan arah.
Jo dapat berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya. Partner bergerak. Jarak berubah. Gerakan yang sedang dilakukan harus terhubung dengan gerakan berikutnya.
Karena itu, mungkin rumusan yang lebih aman adalah:
Aiki Ken membantu kita melihat arah gerakan dengan lebih jelas, sedangkan Aiki Jo memberikan banyak kesempatan untuk memahami bagaimana gerakan berubah dan beradaptasi.
Bukan dua dunia yang terpisah.
Keduanya justru saling melengkapi.
Latihan Aiki Jo juga membuat konsep maai terasa lebih nyata.
Maai bukan sekadar ukuran jarak dalam satuan meter. Ia berkaitan dengan hubungan antara ruang, jarak, waktu dan kesempatan untuk melakukan sebuah gerakan.
Ketika dua orang memegang jo, jangkauan keduanya menjadi lebih panjang dibandingkan ketika mereka menggunakan tangan kosong.
Karena itu, perubahan kecil dalam jarak bisa terasa sangat signifikan.
Terlalu dekat dapat membuat gerakan tidak nyaman. Terlalu jauh membuat teknik tidak memiliki hubungan dengan partner. Masuk terlalu cepat atau terlalu lambat juga dapat menghilangkan timing.
Yang menarik adalah bahwa maai tidak pernah benar benar diam.
Ketika seseorang maju, jarak berubah.
Ketika seseorang mundur, jarak berubah lagi.
Ketika jo bergerak, ruang yang tersedia juga berubah.
Dengan demikian, latihan Aiki Jo bukan hanya mengajarkan kita untuk mengetahui seberapa jauh jarak antara dua orang. Kita belajar merasakan kapan hubungan tersebut mulai berubah.
Pada awalnya, seseorang mungkin merasa bahwa ia sedang memegang sebuah tongkat.
Tangan menggenggam jo. Kemudian tangan menggerakkannya ke depan, ke samping atau ke atas.
Namun semakin sering berlatih, perspektif tersebut dapat berubah.
Jo mulai terasa seperti perpanjangan tubuh.
Gerakan tidak lagi hanya berasal dari tangan. Kaki, pinggul, tulang belakang, bahu dan tangan harus bekerja sebagai satu kesatuan agar gerakan sampai ke ujung jo dengan baik.
Kalau tangan bergerak lebih dulu sementara kaki tertinggal, ketidaksinkronan itu akan terlihat.
Kalau tubuh kehilangan keseimbangan, ujung jo akan ikut menunjukkan masalah tersebut.
Karena itu, jo dapat menjadi alat yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran terhadap tubuh sendiri.
Kita tidak hanya belajar menggerakkan jo.
Kita belajar memahami bagaimana tubuh menghasilkan gerakan.
Salah satu konsep penting dalam tradisi Iwama adalah riai, yaitu hubungan antara prinsip latihan senjata dan taijutsu.
Hubungan tersebut dapat dilihat dari banyak aspek.
Cara melangkah ketika memegang jo memiliki hubungan dengan cara berpindah dalam taijutsu. Postur, penggunaan pinggul, cara memasuki ruang dan cara menjaga keseimbangan juga memiliki hubungan dengan prinsip yang muncul dalam latihan senjata.
Ini bukan berarti setiap teknik tangan kosong harus terlihat seperti teknik dengan senjata.
Yang lebih penting adalah prinsip di balik gerakannya.
Latihan dengan jo memberikan pengalaman terhadap prinsip tersebut dalam konteks yang berbeda. Setelah itu, prinsip yang sama dapat kembali muncul dalam latihan tangan kosong.
Karena itu, dalam pendekatan Iwama, bukiwaza dan taijutsu tidak ditempatkan sebagai dua dunia yang sepenuhnya terpisah.
Keduanya saling membantu menjelaskan satu sama lain.
Hubungan antara ken, jo dan taijutsu merupakan salah satu karakter penting dalam tradisi Iwama.
Ken memberikan pengalaman tertentu tentang garis, arah dan hubungan dengan senjata.
Jo memberikan pengalaman tentang gerakan, perubahan, jarak dan adaptasi.
Taijutsu kemudian membawa prinsip tersebut kembali ke tubuh tanpa senjata.
Ketiganya tidak harus dipahami sebagai tiga latihan yang berdiri sendiri.
Justru ketika kita melihat hubungan di antara ketiganya, beberapa gerakan AIKIDO yang awalnya terlihat aneh mulai mendapatkan konteks.
Mengapa kaki harus berada di posisi tertentu?
Mengapa tubuh harus masuk dengan cara tertentu?
Mengapa tangan tidak seharusnya bekerja sendirian?
Mengapa centerline begitu penting?
Latihan senjata dapat membantu memberikan jawabannya melalui pengalaman fisik.
Semakin lama berlatih, Aiki Jo mulai terasa bukan hanya sebagai latihan koordinasi fisik.
Ada pelajaran sederhana tetapi juga cukup sulit, yaitu bagaimana tetap stabil ketika keadaan berubah.
Kita sering menganggap keseimbangan sebagai sesuatu yang statis. Seolah olah kita seimbang ketika berdiri diam.
Padahal dalam latihan, keseimbangan justru diuji ketika kita bergerak.
Ketika arah berubah.
Ketika partner bergerak.
Ketika jarak berubah.
Ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Respons pertama kita sering kali adalah melawan perubahan tersebut.
Tidak selalu salah.
Tetapi tidak semua perubahan harus dilawan.
Ada saatnya kita perlu mempertahankan posisi. Ada saatnya kita perlu mengubah cara bergerak.
Di sinilah latihan Aiki Jo memberikan sebuah pengalaman yang menarik. Kita tidak bisa mengontrol seluruh gerakan yang terjadi di sekitar kita, tetapi kita dapat melatih kemampuan untuk merespons perubahan tanpa kehilangan keseimbangan.
Bagi seseorang yang hidup di tengah dunia yang bergerak cepat, kemampuan seperti itu terasa cukup relevan.
Inilah alasan Aiki Jo memiliki posisi yang khas dalam Iwama AIKIDO.
Latihan ini bukan sekadar kesempatan untuk memegang tongkat kayu dan melakukan gerakan yang terlihat menarik. Ia merupakan bagian dari metode latihan yang menghubungkan bukiwaza dengan taijutsu.
Dalam pendekatan Iwama, Aiki Ken, Aiki Jo dan taijutsu dipelajari sebagai bagian yang saling berhubungan.
Pendekatan ini berbeda dari beberapa dojo AIKIDO lain yang mungkin memberikan porsi berbeda terhadap latihan senjata. Di sebagian tempat, latihan senjata dapat menjadi pelengkap, sementara di tempat lain latihan tersebut mungkin tidak menjadi bagian utama dari latihan rutin.
Perbedaan tersebut bukan soal mana yang lebih baik atau lebih buruk.
AIKIDO berkembang melalui berbagai tradisi dan pendekatan latihan.
Yang membedakan tradisi Iwama adalah perhatian yang kuat terhadap hubungan antara bukiwaza dan taijutsu.
Karena itu, bagi praktisi Iwama, memahami Aiki Jo bukan hanya berarti belajar menggunakan jo.
Ia berarti belajar melihat AIKIDO melalui perspektif yang berbeda.
Mungkin setelah memahami Aiki Jo sedikit lebih jauh, sebuah tongkat kayu tidak lagi terlihat sesederhana sebelumnya.
Di tangan seorang praktisi, jo menjadi alat untuk melihat bagaimana tubuh bergerak. Ia memperlihatkan hubungan antara kaki, pinggul, tangan dan arah gerak. Dalam latihan berpasangan, jo juga membuat jarak dan timing menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Aiki Ken membantu kita melihat garis dan arah gerakan dengan lebih jelas. Aiki Jo memberikan banyak kesempatan untuk merasakan bagaimana gerakan berubah, beradaptasi dan tetap terhubung dengan tubuh serta partner.
Pada akhirnya, mungkin bukan soal memilih mana yang lebih penting.
Keduanya saling melengkapi.
Kita perlu tahu ke mana kita bergerak.
Tetapi kita juga perlu siap ketika arah tersebut harus berubah.
Tetap memiliki pusat, tetapi tidak takut berubah.
Dan mungkin itulah salah satu pelajaran yang bisa dibawa dari dojo ke kehidupan sehari hari.
Kalau kalian tertarik belajar ilmu pedang Aiki Jo di Iwama AIKIDO di Surabaya Barat, datang saja ke Dojo Antares Aikido Surabaya tiap Sabtu jam 16.00-18.00. Chat WA kita untuk coba gratis atau mau nanya2 soal AIKIDO.